Kita selalu berkeluh kesah tentang klien. Yang begini, begitu, telat, makannya banyak, minta diantar jemput, blablablabla. Tentunya di angan ada sosok klien sempurna idaman agency dan PH. Entah siapa yang bisa mengedukasi klien sehingga pekerjaan kita jadi lebih mudah.
1. Jangan berharap 1 TVC bisa menyelesaikan semua masalah sales. Iklan tivi harus diperlukan sebagai bagian dari campaign yang menyeluruh. Iklan yang diproduksi adalah bagian dari strategi komunikasi demi mencapai tujuan tertentu. Karenanya perhatian utama klien mestinya adalah pesan yang disampaikan, dan bukan panjang pendek rok pemeran utama, atau warna baju yang tabrakan dengan dinding di sebelah sana.
2. Klien bekerja sama dengan advertising agency dan production house karena masing-masing mempunyai kompetensi khusus di bidangnya. Saat klien ingin turut campur menentukan angle, memilih warna, berarti mereka telah membuang uang. Kalau memang begitu, bukan lebih baik dikerjakan sendiri semuanya? Agency dan PH adalah profesional di bidangnya. Lensa kamera melihat dengan cara yang berbeda, terutama dengan kemajuan teknologi post-production.
3. Tentukan pesan yang ingin disampaikan dalam sebuah iklan tivi. Jangan menetapkan target komunikasi yang tidak realistis. Tidak mungkin 20 macam informasi bisa diterima dengan optimal dalam 30 detik. Jujurlah apabila merasa agency board tidak bisa menghantarkan pesan yang diinginkan, dan berharap 'keajaiban' terjadi pada proses produksi. 8 dari 10 kasus yang terjadi adalah kebalikannya. Akhirnya biaya produksi terbuang dan biaya beli media tersia-sia.
4. Perlakukan agency dan PH sebagai partner sejajar. Hanya karena anda yang membayar semua tagihan tidak berarti anda berhak memperlakukan orang seenaknya. Kontribusi maksimal akan terjadi bila semua pihak yang terlibat merasa berarti dan dihargai. Ucapan terima kasih, atau tepukan bisa menghasilkan senyuman dan rasa bangga yang membekas lama.
Thursday, September 20, 2007
Wednesday, September 12, 2007
Salah Siapa Hayooo?
Salah siapa kalau kita shooting sampai pagi?? Jawaban yang sering terdengar biasanya, "Iya tuh kliennya gila... masa mendadak warna background set minta ganti. Akhirnya buang waktu 4 jam cuma nunggu set kering." Atau yang ini, "Namanya juga selebritis. Udah dateng telat 2 jam, make upnya lama banget lagi." Atau anda lebih sering ketemu yang model ini, "Namanya juga sutradara baru. Biasa masih suka main-main, nggak tahu maunya apa. Kita sih ikut aja, tapi lama-lama capek juga ya." Kalau yang ini mungkin agak lebih jarang terdengar, "Produsernya bego. Kerjaan kayak gini nge-quote cuma sehari, mana mungkin?"
Semua alasan di atas ada benarnya. Berbagai skenario bisa muncul saat shooting berlangsung. Karena kru Indonesia tidak bekerja berdasarkan aturan 8 atau 10 jam sehari, produser sering tergoda untuk meng-quote 1 hari panjang; yang tentunya tidak memberikan hasil maksimal karena semua orang sudah lelah dan tida bisa lagi memberikan yang terbaik. Produser yang seharusnya memberikan yang terbaik pada klien akhirnya hanya bisa memberikan hasil pas-pasan. Padahal seandainya budget untuk shooting 1 hari panjang sepadan dengan harga 2 hari shooting, bukankah 2 hari shooting bisa lebih efektif?
Problema yang biasa dihadapi produser adalah
1. Kru Thailand juga terbiasa shooting dengan hari panjang
2. Shooting sesuai aturan 10 jam di Singapura, Malaysia, Australia ataupun di USA lebih efektif daripada 16 jam di Thailand.
Kru Thailand terbiasa dengan jam kerja yang panjang karena kebiasaan sutradara dan DOP yang sangat detail dalam setting. Semua pihak yang terlihat dalam produksi di Thailand terbiasa shooting lewat dari tengah malam. Jadi, kalau di Indonesia dibutuhkan 2 hari untuk shooting produk yang sama, Thailand bisa memberikan 1 hari dengan budget regional yang tentunya tidak bisa disaingi.
Dilihat dari segi manapun, sangat jelas bahwa sumber daya manusia kita perlu ditingkatkan. Mulai dari kru yang harus lebih banyak bekerja daripada nongkrong tunggu dipanggil, sampai kepada sutradara muda yang suka main-main. Para sutradara muda yang sibuk membangun showreel, senang berksperimen. Pernah pada sebuah produksi ada 3 shotlist - untuk klien, agensi dan untuk sutradara. Keadaan ini bisa berubah, karena mulai ada klien yang hanya minta melihat versi yang "on-air" dalam reel seorang sutradara.
Agensi juga perlu menyadari bahwa untuk bisa menjadi sutradara dibutuhkan jam terbang yang tinggi di berbagai bidang produksi, dan bukan sekadar hasrat kreatif belaka. Tapi karena kelangkaan sumber daya manusia di Indonesia, seseorang yang punya hubungan baik dengan staf kreatif bisa dengan mudahnya mendapat kesempatan tanpa pengalaman matang.
Jadi?? Sekolah di produksi demi produksi, belajar lagi, belajar terus!!
Semua alasan di atas ada benarnya. Berbagai skenario bisa muncul saat shooting berlangsung. Karena kru Indonesia tidak bekerja berdasarkan aturan 8 atau 10 jam sehari, produser sering tergoda untuk meng-quote 1 hari panjang; yang tentunya tidak memberikan hasil maksimal karena semua orang sudah lelah dan tida bisa lagi memberikan yang terbaik. Produser yang seharusnya memberikan yang terbaik pada klien akhirnya hanya bisa memberikan hasil pas-pasan. Padahal seandainya budget untuk shooting 1 hari panjang sepadan dengan harga 2 hari shooting, bukankah 2 hari shooting bisa lebih efektif?
Problema yang biasa dihadapi produser adalah
1. Kru Thailand juga terbiasa shooting dengan hari panjang
2. Shooting sesuai aturan 10 jam di Singapura, Malaysia, Australia ataupun di USA lebih efektif daripada 16 jam di Thailand.
Kru Thailand terbiasa dengan jam kerja yang panjang karena kebiasaan sutradara dan DOP yang sangat detail dalam setting. Semua pihak yang terlihat dalam produksi di Thailand terbiasa shooting lewat dari tengah malam. Jadi, kalau di Indonesia dibutuhkan 2 hari untuk shooting produk yang sama, Thailand bisa memberikan 1 hari dengan budget regional yang tentunya tidak bisa disaingi.
Dilihat dari segi manapun, sangat jelas bahwa sumber daya manusia kita perlu ditingkatkan. Mulai dari kru yang harus lebih banyak bekerja daripada nongkrong tunggu dipanggil, sampai kepada sutradara muda yang suka main-main. Para sutradara muda yang sibuk membangun showreel, senang berksperimen. Pernah pada sebuah produksi ada 3 shotlist - untuk klien, agensi dan untuk sutradara. Keadaan ini bisa berubah, karena mulai ada klien yang hanya minta melihat versi yang "on-air" dalam reel seorang sutradara.
Agensi juga perlu menyadari bahwa untuk bisa menjadi sutradara dibutuhkan jam terbang yang tinggi di berbagai bidang produksi, dan bukan sekadar hasrat kreatif belaka. Tapi karena kelangkaan sumber daya manusia di Indonesia, seseorang yang punya hubungan baik dengan staf kreatif bisa dengan mudahnya mendapat kesempatan tanpa pengalaman matang.
Jadi?? Sekolah di produksi demi produksi, belajar lagi, belajar terus!!
Produser VS. Director
Produser yang baik dipercaya oleh sutradaranya, dan kebalikannya. Yang pasti produser itu bukan cuma seseorang yang bisa bahasa Inggris dan pandai mendelegasikan pekerjaan pada lusinan PA. Seorang produser yang baik, bisa membagi tugas dan mengecek pelaksaanan perintah tersebut. Kalau pengecekan tidak berlangsung baik, pasti bakal ada kejutan yang (biasanya...) tidak menyenangkan saat shooting.
Sutradara bergantung kepada produser agar kebutuhannya dapat dipenuhi dengan baik. Berbagai sarana pendukung harus dialokasikan dengan tepat untuk mencapai hasil optimum. Sutradara membutuhkan tuntunan dari produser agar bisa menggunakan sarana pendukung dengan efisien dan efektif.
Banyak sutradara sering berusaha menekan produser dengan shooting board yang bukan saja membutuhkan sarana pendukung lebih dri 150%, atas nama kreatifitas. Sebenarnya hal ini boleh saja, asalkan sutradara dan produser bisa mencapai kesepakatan dan keseimbangan antara kreatifitas dan budget.
Mencapai kesepakatan dan keseimbangan ini sangat penting karena kalau pendukung produksi ditekan terlalu jauh, ada kemungkinan semua bisa berantakan. Tim produksi stres setengah mati, lelah dan akhirnya tidak kerja maksimal selama shooting. Akhirnya cita2 kreatif segunung, segundukan pun tidak jadi. Klien kecewa, agensi sebal dan semua menderita. Sutradara yang model ini biasanya punya reputasi tersendiri, dan seringkali dihindari oleh kru ataupun agensi.
Tapi sutradara macam ini bisa diatasi apabila dilengkapi dengan produser yang baik; yang bisa menciptakan iklim saling menghormati dan saling mendengar. Bukan tidak mungkin seorang sutradara yang terkenal "sulit" bisa ditundukkan oleh produser dengan perencanaan matang. Produser yang bisa menunjukkan akal sehat, dan bukan sekadar mengatakan tidak karena ia yang punya duit.
Kembali lagi kuncinya ada di kerja sama. Produksi film adalah sebuah kerja tim, seperti organisme dengan ketergantungan tinggi demi hidupnya, sutradara dan produser punya kedudukan yang sama pentingnya. Jadi skearang tinggal pilih mau jadi yang mana? Produser atau sutradara??
Sutradara bergantung kepada produser agar kebutuhannya dapat dipenuhi dengan baik. Berbagai sarana pendukung harus dialokasikan dengan tepat untuk mencapai hasil optimum. Sutradara membutuhkan tuntunan dari produser agar bisa menggunakan sarana pendukung dengan efisien dan efektif.
Banyak sutradara sering berusaha menekan produser dengan shooting board yang bukan saja membutuhkan sarana pendukung lebih dri 150%, atas nama kreatifitas. Sebenarnya hal ini boleh saja, asalkan sutradara dan produser bisa mencapai kesepakatan dan keseimbangan antara kreatifitas dan budget.
Mencapai kesepakatan dan keseimbangan ini sangat penting karena kalau pendukung produksi ditekan terlalu jauh, ada kemungkinan semua bisa berantakan. Tim produksi stres setengah mati, lelah dan akhirnya tidak kerja maksimal selama shooting. Akhirnya cita2 kreatif segunung, segundukan pun tidak jadi. Klien kecewa, agensi sebal dan semua menderita. Sutradara yang model ini biasanya punya reputasi tersendiri, dan seringkali dihindari oleh kru ataupun agensi.
Tapi sutradara macam ini bisa diatasi apabila dilengkapi dengan produser yang baik; yang bisa menciptakan iklim saling menghormati dan saling mendengar. Bukan tidak mungkin seorang sutradara yang terkenal "sulit" bisa ditundukkan oleh produser dengan perencanaan matang. Produser yang bisa menunjukkan akal sehat, dan bukan sekadar mengatakan tidak karena ia yang punya duit.
Kembali lagi kuncinya ada di kerja sama. Produksi film adalah sebuah kerja tim, seperti organisme dengan ketergantungan tinggi demi hidupnya, sutradara dan produser punya kedudukan yang sama pentingnya. Jadi skearang tinggal pilih mau jadi yang mana? Produser atau sutradara??
Thursday, September 6, 2007
Bersama Melangkah Maju
Kembali lagi ke masalah asosiasi-asosiasi-an. Asosiasi PH melangkah ke depan dengan melaksanakan Kongres Pertama di Novotel, Bandung dan berhasil menghasilkan sebuah struktur organisasi, AD/ART dan Kode Etik. Boleh juga, mengingat semua peserta rata-rata orang sibuk. 27 dari 28 anggota hadir mewakili berbagai kepentingan, mulai dari PH besar, sedang maupun kecil. Mereka yang hadir menguasai sekitar 80% pasar produksi iklan di Indonesia, sisanya dibagi antara PH gurem yang hari ini ada lusa tiada. Perdebatan antar kepentingan terjadi namun kesepakatan dicapai juga.
Sebelum pelaksanaan kongres, konsep AD/ART telah disosialisasikan kepada anggota melalui beberapa rapat. Lucunya ketika saatnya tiba untuk mengesahkan, ada anggota yang hendak mulai dari nol dan menihilkan semua bentuk sosialisasi sebelumnya. Kenapa? Karena dia tidak hadir di rapat sebelumnya!!! Dengan alasan bahwa kongres adalah bentuk tertinggi dari organisasi, dan sebagainya dan sebagainya. Tidak bisa menghargai waktu yang sudah dicurahkan anggota lain yang sibuk di rapat sebelumnya. Mendadak dia lupa bagaimana rasanya saat final prepro ada klien yang sebelumnya tidak ikut meeting memberi komentar yang sudah pernah dibahas di meeting sebelumnya.
Hal lain yang tidak kalah menggelikan timbul mengenai debat bentuk Presidium dengan 5 anggota vs. 1 Ketua. Selain dari jabatan ketua yang terdengar bergengsi, tidak ada argumen positif lain yang mendukung wacana ini. Kebanyakan anggota setuju bahwa sebagai sesama orang sibuk, membagi tanggung jawab agar tugas tidak terbengkalai adalah lebih baik dan karenanya 5 anggota Presidium bisa bekerja bahu membahu. Apa mungkin ada anggota yang tidak sibuk mengurus PH-nya, dan ingin jadi Ketua mengurus PH-PH lain?
Adalah penting untuk diingat bahwa asosiasi ini dibentuk untuk kepentingan bersama. Sempat muncul ketakutan bahwa asosiasi ini hanya akan menguntungkan PH besar, namun harus disadari bahwa sebenarnya keuntungan paling besar akan diraih oleh PH kecil. Dengan dukungan PH besar yang mengatas namakan asosiasi PH, kepentingan PH kecil menjadi lebih terlindungi. Bargaining power menjadi milik bersama. Apalagi tim Presidium terpilih mewakili berbagai ukuran PH, sehingga semua pihak punya kesempatan bersuara.
Hal yang patut dicatat adalah minimnya perdebatan mengenai Kode Etik. Sebagian besar draft Kode Etik bisa diterima oleh semua pihak, yang secara tidak langsung mengatakan bahwa semua anggota punya nilai-nilai kepatutan yang kurang lebih sama. Kode Etik ini cukup komprehensif dalam mengatur dan memberikan rekomendasi. Meskipun ada usulan untuk lebih tegas, sebagian besar anggota merasa bahwa asosiasi ini masih butuh waktu. Bagaimanapun IPFI masih bayi.
Sebuah organisasi pasti menggambarkan habitatnya. Keributan yang timbul tentang PH besar/kecil di tampuk kekuasaan di awal mirip seperti negara kita sekarang ini. Begitu mudahnya kita merasa "dijajah" atau "dizalimi" saat ada orang/badan yang lebih sukses daripada kita. Lebih mudah untuk menyalahkan ketidak adilan sistem daripada berusaha lebih keras dan membuktikan diri. Mungkin ini akibat penjajahan sistematis jaman Belanda sampai era Orde Baru.
Yang penting akhirnya, IPFI telah lahir dan memiliki arah serta rencana kerja yang jelas. Semoga proses ini bisa jadi pembelajaran bagi kita semua menuju demokrasi sesungguhnya. Semoga tim Presidium bisa memberikan kerja nyata untuk kepentingan bersama; demi membuktikan bahwa mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan masih bisa dicapai.
Semoga.
Sebelum pelaksanaan kongres, konsep AD/ART telah disosialisasikan kepada anggota melalui beberapa rapat. Lucunya ketika saatnya tiba untuk mengesahkan, ada anggota yang hendak mulai dari nol dan menihilkan semua bentuk sosialisasi sebelumnya. Kenapa? Karena dia tidak hadir di rapat sebelumnya!!! Dengan alasan bahwa kongres adalah bentuk tertinggi dari organisasi, dan sebagainya dan sebagainya. Tidak bisa menghargai waktu yang sudah dicurahkan anggota lain yang sibuk di rapat sebelumnya. Mendadak dia lupa bagaimana rasanya saat final prepro ada klien yang sebelumnya tidak ikut meeting memberi komentar yang sudah pernah dibahas di meeting sebelumnya.
Hal lain yang tidak kalah menggelikan timbul mengenai debat bentuk Presidium dengan 5 anggota vs. 1 Ketua. Selain dari jabatan ketua yang terdengar bergengsi, tidak ada argumen positif lain yang mendukung wacana ini. Kebanyakan anggota setuju bahwa sebagai sesama orang sibuk, membagi tanggung jawab agar tugas tidak terbengkalai adalah lebih baik dan karenanya 5 anggota Presidium bisa bekerja bahu membahu. Apa mungkin ada anggota yang tidak sibuk mengurus PH-nya, dan ingin jadi Ketua mengurus PH-PH lain?
Adalah penting untuk diingat bahwa asosiasi ini dibentuk untuk kepentingan bersama. Sempat muncul ketakutan bahwa asosiasi ini hanya akan menguntungkan PH besar, namun harus disadari bahwa sebenarnya keuntungan paling besar akan diraih oleh PH kecil. Dengan dukungan PH besar yang mengatas namakan asosiasi PH, kepentingan PH kecil menjadi lebih terlindungi. Bargaining power menjadi milik bersama. Apalagi tim Presidium terpilih mewakili berbagai ukuran PH, sehingga semua pihak punya kesempatan bersuara.
Hal yang patut dicatat adalah minimnya perdebatan mengenai Kode Etik. Sebagian besar draft Kode Etik bisa diterima oleh semua pihak, yang secara tidak langsung mengatakan bahwa semua anggota punya nilai-nilai kepatutan yang kurang lebih sama. Kode Etik ini cukup komprehensif dalam mengatur dan memberikan rekomendasi. Meskipun ada usulan untuk lebih tegas, sebagian besar anggota merasa bahwa asosiasi ini masih butuh waktu. Bagaimanapun IPFI masih bayi.
Sebuah organisasi pasti menggambarkan habitatnya. Keributan yang timbul tentang PH besar/kecil di tampuk kekuasaan di awal mirip seperti negara kita sekarang ini. Begitu mudahnya kita merasa "dijajah" atau "dizalimi" saat ada orang/badan yang lebih sukses daripada kita. Lebih mudah untuk menyalahkan ketidak adilan sistem daripada berusaha lebih keras dan membuktikan diri. Mungkin ini akibat penjajahan sistematis jaman Belanda sampai era Orde Baru.
Yang penting akhirnya, IPFI telah lahir dan memiliki arah serta rencana kerja yang jelas. Semoga proses ini bisa jadi pembelajaran bagi kita semua menuju demokrasi sesungguhnya. Semoga tim Presidium bisa memberikan kerja nyata untuk kepentingan bersama; demi membuktikan bahwa mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan masih bisa dicapai.
Semoga.
Art Director Idaman
Seperti penggunaan bahasa Indonesia yang sering kali kurang baik dan benar, fungsi art director juga sering kali kurang baik dan benar. Daya tarik finansial dan emosional untuk terlibat dalam tim produksi iklan terkadang menghasilkan pekerja film yang asal jadi dan tidak berpengalaman. Karena kurangnya sumber daya manusia, dan sempitnya pengertian pihak-pihak yang terlibat dalam produksi mengakibatkan sebuah jabatan dalam tim produksi disepelekan.
Posisi art director, atau apapun juga, dianggap enteng; pekerjaan seorang art director 'disederhanakan' karena satu dan lain hal. Tanpa sadar, sebuah produksi menjadi korban inkompetensi anggota timnya.
Art Department merupakan bagian penting dari produksi. Sebuah tim art yang solid, dikomandani seorang art director, dilengkapi dengan prop masters handal bisa memberi nilai lebih (...atau kurang) pada sebuah produksi. Fungsi apakah yang seharusnya dijalankan seorang art director yang baik?
Rig yang terkenal bikin pusing adalah rig untuk air. Pengalaman shooting di Amerika atau di Australia selalu mengesankan, karena semua rig yang digunakan telah melalui tes dan merupakan perwujudan engineering yang sesungguhnya.
Karena itu penting untuk dimengerti bahwa seorang Art Director/Production Designer bukan hanya punya selera yang bagus, dan pengetahuan warna yang di atas rata-rata. Ia juga harus punya akal sehat dan logika dalam bekerja dan mendisain. Kalau semua art director punya kemampuan yang komplet, semua art director akan jadi idaman. Mungkin APFII bisa menjembatani pelatihan dan meningkatkan kualitas art department kita. Susah memang, karena meski sederhana, akal sehat itu termasuk benda langka.
Posisi art director, atau apapun juga, dianggap enteng; pekerjaan seorang art director 'disederhanakan' karena satu dan lain hal. Tanpa sadar, sebuah produksi menjadi korban inkompetensi anggota timnya.
Art Department merupakan bagian penting dari produksi. Sebuah tim art yang solid, dikomandani seorang art director, dilengkapi dengan prop masters handal bisa memberi nilai lebih (...atau kurang) pada sebuah produksi. Fungsi apakah yang seharusnya dijalankan seorang art director yang baik?
- Seorang art director produksi harus menguasai seluk beluk produksi. Ia haruslah seorang kreatif yang bisa berinteraksi dengan director, bukan hanya mengenai mood/tone lewat referensi indah. Memahami proses produksi berarti mengerti bahwa warna yang digunakan sebuah gambar akan melalui proses colour grading di post production. Seorang art director yang kurang pengalaman (atau kurang komunikasi dengan directornya) bisa menghabiskan berjam-jam demi mendapatkan saturasi warna yang 'pas'; sesuatu yang bisa dicapai dengan mudah pada proses colour grading. Bukan berarti warna boleh asal jadi, tapi pemahaman ini bisa menjadi penyelamat saat krisis terjadi.
- Pemahaman akan camera angle dan lensa juga diperlukan untuk menentukan besarnya set yang harus dibangun, atau ruangan yang harus didandani. Kita sering lupa kalau "mata" yang penting dalam pengambilan gambar adalah mata kamera, dan bukan mata kita. Yang menjadi perhatian haruslah gambar yang terlihat di kamera. Kalau kamera akan track, tentunya harus dilihat point awal dan akhir pergerakan kamera, dan pada titik mana set itu akan kelihatan.
- Props bukan sekadar barang-barang untuk mengisi set, membuatnya kelihatan indah seperti layaknya dekor ruang pamer. Seorang art director yang baik bisa menjaga keseimbangan antara fungsi, estetika dan anggaran. Kesalahan yang umum terjadi bila sebuah prop harus fungsional, misalnya sebuah kereta raksasa yang harus didorong 10 orang. Pada saat seperti ini, seorag art director harus bisa menjadi insinyur (...atau bertanya pada seorang insinyur) supaya prop itu tidak hanya tampak indah, tapi bisa menjalankan fungsinya dengan baik.
- Fungsi insinyur seni akan sangat terasa saat produksi iklan shampoo, atau apapun yang berhubungan dengan produk rig. Mulai dari bagaimana sebuah produk diposisikan untuk memperoleh sudut tercantik, sampai membuat air terjun maha dashyat yang menyiram botol shampoo tanpa membuatnya terjungkal.
Rig yang terkenal bikin pusing adalah rig untuk air. Pengalaman shooting di Amerika atau di Australia selalu mengesankan, karena semua rig yang digunakan telah melalui tes dan merupakan perwujudan engineering yang sesungguhnya.
Karena itu penting untuk dimengerti bahwa seorang Art Director/Production Designer bukan hanya punya selera yang bagus, dan pengetahuan warna yang di atas rata-rata. Ia juga harus punya akal sehat dan logika dalam bekerja dan mendisain. Kalau semua art director punya kemampuan yang komplet, semua art director akan jadi idaman. Mungkin APFII bisa menjembatani pelatihan dan meningkatkan kualitas art department kita. Susah memang, karena meski sederhana, akal sehat itu termasuk benda langka.
Monday, August 13, 2007
1-800-788743
DICARI:
- Production House kaya raya yang sanggup memproduksi sebuah film iklan 30 second tanpa pembayaran 50% pertama sebelum klien membayar agency.
- Production House yang menanggung fee agency producer dalam production budget.
- Production House yang bersedia menawarkan harga terendah untuk sebuah film iklan 30 second.
- Production House yang memberikan per diem bagi setiap anggota tim Agency termasuk yang tidak ikut berangkat ke luar negeri.
- Production House yang menyediakan wardrobe bermerek sebagai alternative wardrobe talent untuk kemudian diminta oleh agency/client.
Bagi yang berminat silakan hubungi Mr. Sha Me Less di 1-800-STUPID
Sunday, August 12, 2007
Asosiasi PH
Setelah sekian lama menanti, akhirnya Indonesia punya juga asosiasi- asosiasi-an di dunia produksi film iklan. Saya bilang asosiasi-asosiasi-an karena bentuk kerja nyata asosiasi ini masih belum kelihatan. Ada Asosiasi Pekerja Film Iklan Indonesia, dan belakangan ada Asosiasi PH.
Kenapa sih sebenarnya kita perlu sebuah organisasi? Pada prinsipnya sebuah organisasi bisa muncul karena ada persamaan kepentingan, dan kesadaran bahwa banyak hal yang bisa didapat dengan lebih mudah dengan berjuang bersama. Memang bukan hal baru. "There is power in numbers." Lalu ada juga, "Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh".
Persamaan kepentingan apa yang menyatukan berbagai PH? Dan keuntungan apa yang didapat dengan bersatu? Bukankah selama ini isu yang beredar adalah, yang penting job itu ke gue? Nggak papa kali ini rugi, yang penting job masuk dulu? Nggak papa diskon habis-habisan yang penting kerja? Tanpa memikirkan bahwa hal itu "merusak harga pasar" dan sebenarnya membunuh kesejahteraan diri sendiri dalam jangka panjang.
Ada beberapa hal yang muncul di permukaan:
1. Bersatu dan bekerja sama memberi pengertian pada Agency yang suka seenaknya tidak mau membayar 50% sebelum produksi berlangsung. Kecuali ada PH yang punya pohon duit tumbuh di halaman belakang, rasanya semua setuju bahwa pembayaran 50% pertama akan memperlancar proses produksi sekaligus menunjukkan itikad baik semua pihak yang terlibat.
2. Bersatu dan bekerja sama meluruskan kebingungan pemerintah dalam soal regulasi dan iklim investasi. Sebagai kelompok yang memiliki persamaan kepentingan, asosiasi PH punya kekuatan lobi untuk mendorong keluarnya regulasi yang menguntungkan PH.
Sampai keluarnya peraturan MenKomInfo yang membingungkan semua pihak beberapa bulan yang lalu, bisnis PH di Indonesia bisa dibilang lepas dari campur tangan pemerintah. Tapi mendadak pemerintah merasa punya kepentingan untuk "melindungi tenaga kerja Indonesia" dan "merangsang pertumbuhan industri film lokal" dengan mengeluarkan peraturan yang rancu (karena menterinya kena reshuffle kabinet beberapa hari kemudian, meninggalkan warisan peraturan yang tidak jelas ujung pangkalnya).
Meski mirip dengan MIM - Made In Malaysia; regulasi proteksi pemerintah Malaysia, MII - Made In Indonesia ini tetap tidak secanggih Malaysia punya. Di Indonesia tidak ada badan khusus yang mengatur implementasi MII. Tidak jelas siapa yang berhak menjatuhkan sangsi apabila pelanggaran terjadi, tidak jelas juga siapa yang harus dilapori kalau ingin jadi PH yang baik. Tidak jelas.
Di pihak lain, ada perkembangan baru dari MenBudPar yang katanya ingin membuka keran sebesar besarnya untuk masuknya produksi asing ke Indonesia atas nama pertukaran budaya (dan tentu saja masuknya devisa) dan semangat kooperasi ASEAN.Sangat membingungkan, apalagi mengingat perdagangan bebas ASEAN 2008 sudah semakin dekat. Saat pasar dibuka lebar, Indonesia harus siap kalau tidak mau kalah.
Karena sekarang pemerintah sudah menaruh perhatian terhadap industri film iklan, mungkin sudah waktunya kita menjalin hubungan yang lebih akrab dengan pemerintah. Indonesia punya banyak potensi yang bisa digali lebih jauh untuk produksi film iklan. Keindahan alam Indonesia dan murahnya tenaga kerja bisa menjadi nilai lebih yang bisa dijual. Pasar terbuka mendorong iklim kompetisi dalam negri yang akhirnya akan meningkatkan kualitas dan daya jual.
Sekarang tinggal kita lihat, apakah IPFI hanya sebuah asosiasi-asosiasi-an atau sebuah organisasi dengan misi dan visi untuk membuat perubahan. Kita tidak butuh pernyataan. Kita ingin melihat kenyataan. Semoga.
Kenapa sih sebenarnya kita perlu sebuah organisasi? Pada prinsipnya sebuah organisasi bisa muncul karena ada persamaan kepentingan, dan kesadaran bahwa banyak hal yang bisa didapat dengan lebih mudah dengan berjuang bersama. Memang bukan hal baru. "There is power in numbers." Lalu ada juga, "Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh".
Persamaan kepentingan apa yang menyatukan berbagai PH? Dan keuntungan apa yang didapat dengan bersatu? Bukankah selama ini isu yang beredar adalah, yang penting job itu ke gue? Nggak papa kali ini rugi, yang penting job masuk dulu? Nggak papa diskon habis-habisan yang penting kerja? Tanpa memikirkan bahwa hal itu "merusak harga pasar" dan sebenarnya membunuh kesejahteraan diri sendiri dalam jangka panjang.
Ada beberapa hal yang muncul di permukaan:
1. Bersatu dan bekerja sama memberi pengertian pada Agency yang suka seenaknya tidak mau membayar 50% sebelum produksi berlangsung. Kecuali ada PH yang punya pohon duit tumbuh di halaman belakang, rasanya semua setuju bahwa pembayaran 50% pertama akan memperlancar proses produksi sekaligus menunjukkan itikad baik semua pihak yang terlibat.
2. Bersatu dan bekerja sama meluruskan kebingungan pemerintah dalam soal regulasi dan iklim investasi. Sebagai kelompok yang memiliki persamaan kepentingan, asosiasi PH punya kekuatan lobi untuk mendorong keluarnya regulasi yang menguntungkan PH.
Sampai keluarnya peraturan MenKomInfo yang membingungkan semua pihak beberapa bulan yang lalu, bisnis PH di Indonesia bisa dibilang lepas dari campur tangan pemerintah. Tapi mendadak pemerintah merasa punya kepentingan untuk "melindungi tenaga kerja Indonesia" dan "merangsang pertumbuhan industri film lokal" dengan mengeluarkan peraturan yang rancu (karena menterinya kena reshuffle kabinet beberapa hari kemudian, meninggalkan warisan peraturan yang tidak jelas ujung pangkalnya).
Meski mirip dengan MIM - Made In Malaysia; regulasi proteksi pemerintah Malaysia, MII - Made In Indonesia ini tetap tidak secanggih Malaysia punya. Di Indonesia tidak ada badan khusus yang mengatur implementasi MII. Tidak jelas siapa yang berhak menjatuhkan sangsi apabila pelanggaran terjadi, tidak jelas juga siapa yang harus dilapori kalau ingin jadi PH yang baik. Tidak jelas.
Di pihak lain, ada perkembangan baru dari MenBudPar yang katanya ingin membuka keran sebesar besarnya untuk masuknya produksi asing ke Indonesia atas nama pertukaran budaya (dan tentu saja masuknya devisa) dan semangat kooperasi ASEAN.Sangat membingungkan, apalagi mengingat perdagangan bebas ASEAN 2008 sudah semakin dekat. Saat pasar dibuka lebar, Indonesia harus siap kalau tidak mau kalah.
Karena sekarang pemerintah sudah menaruh perhatian terhadap industri film iklan, mungkin sudah waktunya kita menjalin hubungan yang lebih akrab dengan pemerintah. Indonesia punya banyak potensi yang bisa digali lebih jauh untuk produksi film iklan. Keindahan alam Indonesia dan murahnya tenaga kerja bisa menjadi nilai lebih yang bisa dijual. Pasar terbuka mendorong iklim kompetisi dalam negri yang akhirnya akan meningkatkan kualitas dan daya jual.
Sekarang tinggal kita lihat, apakah IPFI hanya sebuah asosiasi-asosiasi-an atau sebuah organisasi dengan misi dan visi untuk membuat perubahan. Kita tidak butuh pernyataan. Kita ingin melihat kenyataan. Semoga.
Subscribe to:
Posts (Atom)